Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil

January 15, 2026

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Asal usul nama Minggir berawal ketika masa Diponegoro melawan Belanda. Dikisahkan sepasang suami istri bernama Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil yang merupakan seorang pendekar pengikut Pangeran Diponegoro yang sedang mencari pengikut untuk dijadikan pasukan Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda. Perjalanan yang cukup jauh, membuat Nyai Mindhil merasakan kehausan. Melihat istrinya kehausan, Kyai Mindhil meminta air minum kepada penduduk setempat yang sedang berteduh di Bawah Pohon. Bukan air yang didapatkan, namun jawaban ketus penuh kesombongan menolak permohonan Kyai Mindhil. Melihat kejadian tersebut Kyai Mindhil mengeluarkan 2 patah kata “Ngenthang-enthang“. Seketika itu, daerah tersebut kekurangan air. Sejak saat itu daerah tersebut bernamakan Ngenthak.

Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil kembali melakukan perjalanan hingga berhenti disuatu tempat untuk beristirahat, di tempat tersebut Nyai Mindhil dan Kyai Mindhil menemukan mata air jernih (Sendang Kandhang Kembar). Bentuk dan tekstur tanah di Tempat tersebut berwujud cekung/ cekungan atau Ledhokan, maka daerah tersebut diberi nama Ledhok. Merasa nyaman, mereka mendirikan tempat tinggal sederhana dan mulai melakukan aktivitas bercocok tenam dengan jenis yang ditanam berupa jagung, kacang dan singkong. Oleh sebab itu, area tersebut diberi nama Tegal. Kyai Mindhil berupaya untuk menanam padi dan menentukan lokasi penanaman yang terdapat di Daerah Pereng atau tebing, di daerah tersebut terdapat sendang dan kemudian diberi nama Jumbleng.

Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil hidup dengan tentram. Pada akhir hayatnya, Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil dimakamkan di sebuah tempat. Tempat inilah yang lama kelamaan menjadi cikal bakal menjadi Minggir (sekarang menjadi nama Padukuhan Minggir). Makam Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil dipercaya berada di Padukuhan Minggir III. Melihat asal usul perjalanan hidup Kyai Mindhil dan Nyai Mindhil, di Padukuhan Minggir II terdapat daerah-daerah kecil bernama Ngenthak, Ledhok, Tegal dan Kulon Jumbleng. Ke-empat daerah tersebut menyatu menjadi satu Padukuhan bernamankan Padukuhan Minggir II. (sumber pendukung: Buku Sendangagung Gumregah 2017)