Ki Ageng Tunggul Wulung

August 14, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Tokoh yang ditonjolkan dalam upacara ini adalah Ki Ageng Tunggul Wulung dan kerabatnya. Di sini cukup jelas akan adanya sesuatu yang melatar belakangi penyelenggaraan upacara, yaitu kepercayaan bahwa Ki Ageng Tunggul Wulung yang telah melindungi warga masyarakat setempat, yang diwujudkan dalam pemeberian panen dan keselamatan.

“Pada waktu kerajaan Majapahit memasuki masa surut yang ditandai dengan masuknya agama Islam. Maka banyak kerabat atau punggawa kerajaan tidak dapat menerima kehadiran agama Islam, karena mereka telah menganut agama Hindu. Pada masa itu dipulau Jawa telah ada kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak Bintoro yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Sultan Trenggono dengan dibantu seorang patih yaitu Wono Salam serta dengan penasehat para wali (walisanga) Kerajaan terbesar dipulau Jawa pada masa itu yaitu kerajaan Majapahit yang terletak disekitar aliran Sungai Brantas (Jawa Timur), yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Brawijaya yang terakhir, yang berangsur-angsur mengalami kemunduran. Atas petunjuk para wali dirasa saat yang tepat untuk memasukan ajaran agama Islam di kerajaan Majapahit, yaitu dengan jalan putrid Brawijaya  dijodohkan dengan putra Demak yakni Adipati Terung.

Sejak saat itulah masuk ajaran agama Islam di kerajaan Majapahit. Berhubung kerajaan Majapahit semakin goncang dan situasinya semakin memburuk, maka banyak pangeran dan hulubalang raja yang meninggalkan kerajaan termasuk Ki Ageng Tunggul Wulung ( sebelumnya bernama Senopati Tunggul Sapdojati Among Rogo). Ki Ageng Tunggul Wulung pergi dari kerajaan Majapahit dengan diiringi tujuh pengawal yakni : Ki Ageng Nanggul tinggal di Nanggulan, Ki Ageng Kelir tinggal di Keliran, Ki Ageng Krenggo tinggal di Krenggon, termasuk istrinya yaitu Raden Ayu Gadhung Mlati, tidak ketinggalan Raden Sutejo dan Raden Purworejo yang bersifat kajiman (tidak kasat mata) selalu menyertai perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung. Di samping itu, perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung juga disertai oleh abdi dalem kinasih bernama Nyai Dakiyah.

Perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung menuju ke barat guna menyelamatkan putra Brawijaya (raja Majapahit) yang bernama Bondan Gejawan. Dalam perjalanannya, Ki Ageng Tunggul Wulung membawa benda-benda pusaka yakni : tombak tunggul wasesa, keris pulanggeni, keris kyai sengkelat, batu aji dan pusaka tunggul wulung yang berupa bendera. Ki Ageng Tunggul Wulung mendapat perintah dari raja Brawijaya agar supaya memberikan pusaka-pusaka tersebut kepada orang yang berhak memiliki, yaitu yang masih keturunan raja. Akhirnya pusaka-pusaka tersebut diberikan kepada raja pertama Mataram yaitu Panembahan Senopati. Perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung sampai di Gamping. Oleh karena Bondan Gejawan jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia, maka kemudian dimakamkan di Desa Gejawen.

Selanjutnya Ki Ageng Tunggul Wulung beserta pengikutnya sampai melanjutkan perjalanannya setelah sampai di Dusun Beji (Diro), kemudian beliau membuat pesanggrahan (keraton kecil). Ditepi pesanggrahan itu terdapat blumbang (empang), sampai saat ini masih dapat ditemukan. Selain itu Ki Tunggul Wulung disekitar pesanggrahan tersebut membuat patung pepethan lembu Andhini dan sapi Gumarang yang dibuat dari bahan batu sebesar rumah dan dibuatkan cungkup atau rumahan dan dipagari bamboo, namun pada tahun 1996 pepethan itu telah hilang dan sampai saat ini masyarakat tidak ada yang mengetahui.

Pada suatu malam Jumat Pon beliau memohon petunjuk kesempurnaan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa dibawah pohon Timoho di dekat Sungai Progo, yang sekarang termasuk wilayah Dusun Dukuhan, Desa Sendang Agung. Ki Ageng Tunggul Wulung serta istri dan tujuh orang pengawalnya serta Nyi Dakiyah akhirnya muskwa (musnah beserta raganya atau hilang tanpa bekas), demekian pula binatang peliharaan Ki Ageng sebagai kesayangan, berupa : burung perkutut, burung gemak (puyuh), macam gembong, macan kumbang, macan putih, nogo ijo, nogo ireng, ayam jago “wiring kuning”.

Tempat muskwa Ki Ageng Tunggul Wulung tersebut selanjutnya atas saran seorang Belanda kepada Nyai Kriyoleksono (juru kunci ke-2) dibuatkan nisan seperti layaknya makam, dan diyakini masyarakat banyak sebagai tempat yang keramat atau wingit (memiliki daya magis), sehingga banyak orang yang berziarah di “makam” ini.

Adapun riwayat tayuban dapat dikemukakan pada waktu itu ada seorang ledhek (penari perempuan) yang mempunyai niat menari penglarisan (kekuatan magis yang dianggap dapat memajukan usahanya atau usahanya dapat berhasil), kemudian dia tirakat (laku prihatin) di komplek makam Ki Ageng Tunggul Wulung, tetapi kemudian hilang tidak diketahui rimbanya ledhek tersebut selanjutnya diyakini masyarakat sekitarnya bahwa ia disukai oleh Ki Ageng Tunggul Wulung.

Pada perkembangan selanjutnya setiap upacara bersih dusun diadakan kenduri selamatan baik di makam maupun di rumah juru kunci yang kemudian dilanjutkan dengan tayuban dengan diiringi gendhing (jenis lagu musik gamelan) “sekar gandhung” di mana sang ledhek menari tanpa diibing, karena menurut keyakinan yang ngibing adalah Ki Ageng Tunggul Wulung.