

Upacara Tunggul Wulung, berpusat pada “pemujaan” terhadap tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung, yang dilaksanakan di Desa Sendang Agung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman ini diberi nama Upacara adat Bersih Dusun atau sering disebut juga Upacara Adat Bersih Desa. Dimasukannya unsur bersih dusun/desa ini dikuatkan oleh keterkaitan pelaksanaan Upacara Bersih Desa di berbagai daerah yang juga terkait dengan panen. Dalam hal ini dapat adanya unsure ucapan syukur terhadap panen yang telah berhasil dipetik, yang berarti warga masyarakat tidak akan kekurangan bahan makanan untuk kurun waktu tertentu. Atas dasar pemahaman seperti itu warga masyarakat perlu bersyukur yang diwujudkan dengan penyelenggaraan upacara.
Tujuan upacara ini meminta keselamatan dan kesejahteraan. Walaupun kalau ditanya kepada siapa mereka meminta keselamatan dijawab kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, namun dalam kenyataan dalam pelaksanaan juga masih nampak kuatnya kepercayaan mereka terhadap kosnologi Jawa yaitu adanya kekuatan gaib, termasuk arwah nenek moyang atau leluhur. Dalam hal ini yang penting adalah bahwa mereka yang melakukan upacara tersebut akan merasa tenang, karena dengan demikian mereka akan memperoleh keselamatan dari “kekuatan” yang dianggap melebihi kekuatan dirinya sendiri. Dalam hal ini yang penting orang harus mengadakan upacara walaupun hanya sederhana, sebab kalau tidak menjalankan upacara orang akan merasa khawatir atas keselamatannya. Warga masyarakat setempat mempercayai bahwa permintaan keselamatan itu diajukan kepada Tuhan Sang pencipta agar kondisi desa dan masyarakat penghuni dan sekitarnya diberi ketentraman, kesejahteraan, kesehatan dan lebih dari itu mereka mengharap agar terhidar dari malapetaka. Dengan demikian, unsure ungkapan syukur kepada Tuhan juga terkandung di dalamnya.
Berhubung sudah menjadi salah satu kepercayaan masyarakat terhadap leluhur, maka tujuan pelaksanaan upacara ini agar :
- Terpadunya rasa keutuhan dan persatuan serta adanya kebersamaan.
- Kebersihan jiwa dan lingkungan dapat terjamin.
- Kondisi desa dan masyarakat penghuni serta masyarakat sekitar diberikan ketentraman lahir batin.
- Terhindar dari bencana alam.
- Dalam sector pertanian diberi kesuburan, terhindar dari serangan hama, sehingga diberikan hasil melimpah.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Upacara. Waktu yang dipilih untuk pelaksanaan upacara bersih dusun adalah pada hari Jumat Pon setelah panen rendhengan dalam setiap tahunnya. Dalam hal ini tidak memandang bulannya harus bulan tertentu, artinya bulan tidak menentu yang penting setelah panen rendhengan dan pada hari Jumat Pon. Adapun alas an pemilihan hari tidak didasarkan oleh suatu yang rasional, melainkan hanya didasarkan oleh keyakinan bahwa Jumat merupakan hari yang dikeramatkan oleh Ki Ageng Tunggul Wulung. Menngenai pilihan setelah panen karena di dalam upacara ini ucapan syukur atas panen yang telah berhasil dipetik.
Pilihan tempat dilaksanakannya upacara bersih dusun terutama didasarkan pada lokasi dimana “makam” Ki Ageng tunggul Wulung berada, dalam hal ini dusun Dukuhan XIII, Desa Sendang Agung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Dalam hal ini sebenarnya tempat pelaksanaan upacara itu dapat dibedakan : (1) “makam” Ki Ageng Tunggul Wulung, dan (2) rumah juru kunci “makam” tersebut (sekarang Bapak Perno Hardi Suyanta). Namun kaitannya dengan prosesi atau kirab dalam rangka upacara ini sebenarnya ada juga tempat yang dapat disebutkan, yaitu Dusun Dero (Desa Sendang Agung, Minggir, Sleman) dimana di situ diselenggarakan acara awal sebelum dilakukan iring-iringan atau kirab untuk pelaksanaan acara resmi di Dusun Dukuhan XIII.
Secara umum upacara ini dipimpin oleh juru kunci “makam”, yang bertugas baik untuk menentukan kapan pelaksanaan upacara, siapa yang terlibat dalam upacara, dan persiapan-persiapan upacara. Namun khusu untuk memimpin upacara kenduri selamatan, yang di “makam” dipimpin juru kunci, sedangkan yang di rumah juru kunci dipimpin oleh kaum atau rois. Peranan pemimpin di sini selain menyampaikan tujuan kenduri juga sekaligus mengucapkan doa.
Pihak-pihak yang terlibat adalah para peraga yang mengikuti prosesi atau kirab. Selain itu peserta kenduri selamatan adalah kepala-kepala keluarga terutama yang ada di Dusun Dukuhan XI, XII, dan XIII serta dibantu warga masyarakat Dusun Dero dan Dukuhan X. tugas peserta upacara adalah ikut menyediakan rangkaian nasi beserta lauk pauk yang akan dikendurikan, membagi-bagikan makanan setelah didoakan oleh pemimpin upacara, dan membawa pulang bagian makanan yang dikendurikan. Selain itu dalam rangka pelaksanaan upacara sebenarnya juga melibatkan sejumlah orang namun peranannya tidak terlalu penting, seperti tokoh masyarakat setempat, termasuk pejabat pemerintah, bahkan juga penduduk setempat dan simpatisan dari berbagai daerah di luar dusun, baik yang dekat maupun yang jauh.
Dari uraian di atas sudah nampak bahwa peranan pimpinan upacara terutama memimpin jalannya upacara agar upacara dapat berlangsung lancer, menyampaikan tujuan dilaksanakannya upacara, serta memanjatkan doa. Sementara itu, peserta upacara berperan menyediakan makanan, mengikuti pelaksanaan upacara, mengamini doa dan membagi serta membawa pulang bagian makanan setelah selesai dikendurikan. Dalam hal ini semua pihak yang terlibat, baik sebagai pimpinan maupun sebagai peserta umumnya menjaga ketertiban atas jalannya upacara. Begitu pula halnya mereka yang terlibat dalam prosesi, mereka biasanya sudah mempersiapkan diri cukup lama sebelum prosesi itu berlangsung.
Peralatan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara meliputi : goci dan sloki yang dipergunakan sebagai wadah minuman yang dipersembahkan bagi Ki Ageng Tunggul Wulung; padi satu unting yang melambangkan hasil panen yang telah dinikmati karena perlindungan Ki Ageng; gamelan laras slendro untuk mengiringi gerak ledhek saat tayub; selendang atau sampur sebagai perlengkapan kenduri : tumpeng sekul wuduk, lalapan, nasi golong, pisang raja setangkep, tukon pasar, ingkung ayam jago “wiring kuning”, minuman kopi, arak, kinang, rokok cerutu.
Prosesi Upacara. Pihak-pihak yang mengikuti dalam prosesi atau kirab adalah terutama penduduk setempat termasuk aparat pemerintah, dan beberapa simpatisan dari luar daerah. Adapun tujuan mereka mengikuti prosesi terutama untuk memeriahkan upacara, tetapi dibelakang itu mereka ingin terlibat dalam rangka memohon berkat dari Ki Ageng Tunggul Wulung.
-
- Prajurit kasepuhan Dusun Dukuhan berjumlah 40 orang dengan manggalayudha Bapak Tedo Sumarta
- Kelompok kasepuhan Dusun Dukuhan berjumlah 7 orang
- Para pemikul pusaka pemberian Ki Ageng Tunggul Wulung
- Kelangenan Ki Ageng antara lain : perkutu, gemak, macan, ular, dan lain-lain
- Prajurit pembawa pusaka pengiring, diantaranya : prajurit dari Dusun Dukuhan XII berjumlah 30 orang yang dipimpin oleh seorang pandega 9komandan) prajurit dengan membawa pedang-tameng
- Penabuh drum, simbal, dan terompet yang berjumlah 10 orang
- Pemikul sesaji (tanggung jawab masing-masing RT/RW Tengahan X, XI, XII dan Dukuhan serta dari tingkat desa dan kecamatan yang diketuai oleh rois)
- Kelompok jathilan dari Minggir Ii Jati Kembar
- Arak-arakan hasil bumi dengan dimuat dalam keseran yang dihias, mewakili dari :
- Dukuhan X, XI, dan XII
- Tengahan
- Diro
- Petani sekitar
- Desa-desa sekecamatan Minggir
- Kelompok kesenian dari Brajan
- Para kepala desa punggawa kecamatan
- Kelompok kesenian Trengganon dari Parakan Sendang Sari
- Para kepala dusun Sendang Mulyo dan Sendang Agung yang berbusana kejawen lengkap
- Jathilan Jawa dari Kedung Prau Sendangrejo (Minggir) berbusana wayang orang lengkap
- Warga masyarakat dan tokoh masyarakat Dukuhan Berbusana kejawen lengkap dengan atraksi seperti temanten, lampion, dan lain-lain
- Jathilan rapak dari Keliran
- Warga masyarakat penderek dari Diro dan tokoh-tokoh masyarakat pembawa hasil bumi. Jathilan dari Plembon
- Jathilan dari Plembon
- Warga masyarakat umum.
